Kamis, 29 April 2021

UAS MANTIQ

Nama : Nurul Qur’ani Fikriyah

Kelas : 2C IAT

Dosen : Bpk. Saepullah

JURNAL 1

Model Pembelajaran Cooperative Script

1.     Definisi

Cooperative Script merupakan salah satu bentuk pembelajaran. Pada pembelajaran ini antar siswa satu dengan lainnya menyepakati aturan, dan menjalankan perannya masing-masing.

Pembelajaran ini dilakukan oleh guru dengan mengelompokkan siswa atau secara berpasangan. Yang mana nantinya siswa akan melaksanakan peranan sesuai tugas masing-masing, Ada yang mempresentasikan perolehan meterinya dan ada yang menyimak serta mengkoreksi kesalahan pembicara bila ada kesalahan. Kemudian meteri tersebut disimpulkan bersama. Sementara guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan siswa untuk meraih tujuan belajar. Selain itu, guru mengontrol selama pembelajaran berlangsung sembari mengarahkan siswa yang merasa kesulitan.[1]

 

2.     Proposisi

Setiap pembelajaran Cooperative script menciptakan interaksi belajar dominan siswa dengan siswa dan menjadikan siswa aktif dikelas.

Tidak semua pembelajaran harus menerapkan metode cooperative script.

3.     Bagaimana kesimpulan dibuat

Pada saat dilakukan pembelajaran Cooperative Script akan terjadi beberapa tahapan. Diantaranya guru akan menjelaskan model pembelajaran ini lalu memberikan materi, selanjutnya guru akan memberikan  penjelasan  cara  kerja  kelompok dengan model  pembelajaran Cooperative  Script dan memberikan ringkasan mengenai materi, lalu memasang-masangkan siswa.  Kemudian siswa  saling  bergantian  membacakan  materi dengan meringkas, sembari guru menyimak dan mengoreksi. Terakhir membuat kesimpulan siswa bersama-sama dengan guru. [2]


4.     Mengkritisi ke tiga poin diatas

Dalam pembelajaran sudah seharusnya seorang pengajar memikirkan dan memiliki metode pengajaran bagi anak muridnya agar terwujud tujuan dari pembelajraan. Namun perlu diperhatikan oleh para pengajar apakah metode yang diterpakan tepat bagi anak muridnya atau sebaliknya.

 

Seperti metode Cooperatif script yang sudah diterapkan oleh para guru disekolah,

Metode pembelajaran cooperative ini merupakan strategi yang efektif bagi siswa untuk mencapai hasil akademik  dan sosial termasuk meningkatkan prestasi, percaya diri dan hubungan interpersonal positif antara satu siswa dengan siswa yang lain. Namun model pembelajaran ini hanya cocok bagi siswa-siswi yang cerdas, aktif dan terbuka, tidak bagi siswa-siswi yang memiliki tingkat kecerdasannya biasa saja, pemalu dan tertutup, mereka akan merasa kesulitan menyerap materi yang sedang didiskusikan. Sebab materi disampaikan oleh siswa-siswa yang berbeda dengan gaya bahasa penyampaian yang berbeda dan belum layaknya penjelasan seorang guru sehingga seringkali menimbulkan ketidak fahaman bagi penyimak. Hal itu mungkin mudah saja diatasi dengan banyak mengajukan pertanyaan atau mempertanyakan kembali kepada guru diakhir sesi. Namun bila kegagal pahaman yang dialami oleh siswa terjadi secara total siswa akan bingung bagaimana mempertenyakan akan sesuatu yang tidak dipahami. Tentunya tidak mungkin siswa meminta guru untuk menjelaskan ulang secara keseluruhan. Selain hal tersebut membutuhkan banyak waktu hal itu juga mempermalukan dirinya, sehingga dia memilih diam dan dianggap faham.

 

Kekurangan model pembelajaran ini bila terjadi terus menerus dan dialami oleh banyak siswa akan jauh dari tujuan pembelajaran cooperative script.

 

Jurnal 2

 Wayang Kulit Sebagai Media Dakwah Ki Anom

1.     Definisi

Wayang di dalam bahasa jawa perkataan artinya adalah wayangan (layangan), di dalam  bahasa Indonesia artinya bayang-bayang. Menurut bahasa Bikol Wayang berasal dari  kata Wod dan Yang. Kira-kira artinya gerakan yang berulang-ulang  tidak tetap. Sehingga dapat disimpulkan bahwa wayang artinya adalah: Bayangan yang bergoyang, bolak-balik (berulang-ulang) atau mondar-mandir tidak tetap tempatnya.[3] 

Wayang kulit adalah pertunjukan drama dengan boneka berkarakter perwayangan bentuknya pipih dan tipis karena dari kulit hewan, bentuknya unik khas Indonesia.

Dakwah identik dengan komunikasi, yakni upaya menyamakan paham si pembicara kepada pendengarnya. Salah satu alat atau sarana mempermudah penyampaian adalah dengan menggunakan media wayang, demikianlah yang diterapkan ki Anom dalam menyampaikan dakwah islam pada masyarakat selama puluhan tahun.

 

2.     Proposisi

Setiap penyampaian dakwah membutuhkan media sarana untuk mempermudah dalam memperoleh penerimaan dakwah dari masyarakat.

3.     Kesimpulan

Ki Anom Suroto, meskipun hanya seorang lulusan SMP beliau dikenal sebagai seorang dalang yang terkenal baik di dalam ataupun luar negri sebab kegigihannnya dalam belajar wayang.

Menurut Ki  Anom  Suroto,  islam merupakan  bagian yang  tidak  terpisahkan  dari  cerita  atau  lakon  wayang . Oleh sebab itu tembang atau lagu dan cerita atau lakon, yang terdapat pada setiap pementasannya,  beliau selalu menyelipkan  tausiah  keagamaan  dan  isu-isu  sosial  yang sedang  dihadapi. Sehingga ilmu dan wawasan keagamaan menjadi suatu hal yang menarik dan menyenangkan tidak monoton.

Strategi komunikasi Ki Anom Suroto dalam pagelaranya, sangat memperhatikan para audiensnya. Cerita  yang  dilakonkan  dalam  wayang  Ki  Anom Suroto  sangat  memperhatikan  masalah  yang  dihadapi,  sehingga  pesan dakwah dalam cerita  dapat  diterima  atau  dipahami  oleh  para penontonnya.

4.     Mengkritisi ke tiga poin diatas

Untuk memperoleh penerimaan masyarakat awam terhadap ajaran islam, sudah seyogya seorang pendakwah memiliki strategi dalam menyapaikan dakwahnya. Sebagaimana yang praktekkan Ki Anom Suroto yang menyelipkan ajaran agama dalam pagelarannya, sehingga agama terkesan menyenangkan tidak monoton dan tidak sulit. Namun perlu digaris bawahi bahwa tidak semua dakwah harus melalui pentas hiburan, sebab dihawatirkan pesan yang didengar oleh audiens tidak diresapi oleh ruh, dan menjadi kalimat-kalimat kosong belaka. Maka seorang pendakwah hendaknya memperhatikan kondisi dan siapa pendengarnya agar ajaran mulia ini diterima oleh seluruh ummat manusia di muka bumi ini.



[1] Aris  Shoimin,  Model  Pembelajaran  Inovatif  dalam  Kurikulum  2013.  (Yogyakarta:  Ar-Ruzz  Media, 2014). hlm. 50.

[2] Saepullah dkk, Kaji Tindak Model Pembelajran Cooperatif Script, Vol 9. No.1 Oktober 2019 ejurnal.iiq.ac.id

 

[3] Alip Nuryanto, Saepullah, Wayang Kulit Sebagai Media Dakwah Ki Anom Suroto, Vol. 5, No. 02, Juli-Desember 2020, https://e-journal.metrouniv.ac.id/

 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UAS MANTIQ Nama : Nurul Qur’ani Fikriyah Kelas : 2C IAT Dosen : Bpk. Saepullah JURNAL 1 Model Pembelajaran Cooperative Script 1....