UAS
MANTIQ
Nama : Nurul
Qur’ani Fikriyah
Kelas : 2C IAT
Dosen : Bpk.
Saepullah
JURNAL 1
Model Pembelajaran Cooperative
Script
1.
Definisi
Cooperative Script merupakan salah satu bentuk pembelajaran. Pada pembelajaran ini antar siswa satu dengan lainnya menyepakati aturan, dan menjalankan perannya masing-masing.
Pembelajaran
ini dilakukan oleh guru dengan mengelompokkan siswa atau secara berpasangan.
Yang mana nantinya siswa akan melaksanakan peranan sesuai tugas masing-masing,
Ada yang mempresentasikan perolehan meterinya dan ada yang menyimak serta
mengkoreksi kesalahan pembicara bila ada kesalahan. Kemudian meteri tersebut
disimpulkan bersama. Sementara guru berperan sebagai fasilitator yang
mengarahkan siswa untuk meraih tujuan belajar. Selain itu, guru mengontrol
selama pembelajaran berlangsung sembari mengarahkan siswa yang merasa
kesulitan.[1]
2.
Proposisi
Setiap pembelajaran Cooperative script
menciptakan interaksi belajar dominan siswa dengan siswa dan menjadikan siswa aktif
dikelas.
Tidak semua pembelajaran harus
menerapkan metode cooperative script.
3.
Bagaimana kesimpulan dibuat
Pada saat dilakukan pembelajaran Cooperative Script akan terjadi beberapa tahapan. Diantaranya guru akan menjelaskan model pembelajaran ini lalu memberikan materi, selanjutnya guru akan memberikan penjelasan cara kerja kelompok dengan model pembelajaran Cooperative Script dan memberikan ringkasan mengenai materi, lalu memasang-masangkan siswa. Kemudian siswa saling bergantian membacakan materi dengan meringkas, sembari guru menyimak dan mengoreksi. Terakhir membuat kesimpulan siswa bersama-sama dengan guru. [2]
4.
Mengkritisi ke tiga poin diatas
Dalam pembelajaran sudah seharusnya
seorang pengajar memikirkan dan memiliki metode pengajaran bagi anak muridnya
agar terwujud tujuan dari pembelajraan. Namun perlu diperhatikan oleh para pengajar
apakah metode yang diterpakan tepat bagi anak muridnya atau sebaliknya.
Seperti metode Cooperatif script yang
sudah diterapkan oleh para guru disekolah,
Metode pembelajaran cooperative ini
merupakan strategi yang efektif bagi siswa untuk mencapai hasil akademik dan sosial termasuk meningkatkan prestasi,
percaya diri dan hubungan interpersonal positif antara satu siswa dengan siswa
yang lain. Namun model pembelajaran ini hanya cocok bagi siswa-siswi yang
cerdas, aktif dan terbuka, tidak bagi siswa-siswi yang memiliki tingkat
kecerdasannya biasa saja, pemalu dan tertutup, mereka akan merasa kesulitan
menyerap materi yang sedang didiskusikan. Sebab materi disampaikan oleh siswa-siswa
yang berbeda dengan gaya bahasa penyampaian yang berbeda dan belum layaknya
penjelasan seorang guru sehingga seringkali menimbulkan ketidak fahaman bagi penyimak.
Hal itu mungkin mudah saja diatasi dengan banyak mengajukan pertanyaan atau
mempertanyakan kembali kepada guru diakhir sesi. Namun bila kegagal pahaman
yang dialami oleh siswa terjadi secara total siswa akan bingung bagaimana mempertenyakan
akan sesuatu yang tidak dipahami. Tentunya tidak mungkin siswa meminta guru
untuk menjelaskan ulang secara keseluruhan. Selain hal tersebut membutuhkan
banyak waktu hal itu juga mempermalukan dirinya, sehingga dia memilih diam dan
dianggap faham.
Kekurangan model pembelajaran ini
bila terjadi terus menerus dan dialami oleh banyak siswa akan jauh dari tujuan
pembelajaran cooperative script.
Jurnal 2
1.
Definisi
Wayang di dalam bahasa jawa perkataan artinya adalah wayangan (layangan), di dalam bahasa Indonesia artinya bayang-bayang. Menurut bahasa Bikol Wayang berasal dari kata Wod dan Yang. Kira-kira artinya gerakan yang berulang-ulang tidak tetap. Sehingga dapat disimpulkan bahwa wayang artinya adalah: Bayangan yang bergoyang, bolak-balik (berulang-ulang) atau mondar-mandir tidak tetap tempatnya.[3]
Wayang kulit adalah pertunjukan drama dengan boneka berkarakter perwayangan bentuknya pipih dan tipis karena dari kulit hewan, bentuknya unik khas Indonesia.
Dakwah identik dengan komunikasi, yakni upaya menyamakan paham si pembicara kepada pendengarnya. Salah satu alat atau sarana mempermudah penyampaian adalah dengan menggunakan media wayang, demikianlah yang diterapkan ki Anom dalam menyampaikan dakwah islam pada masyarakat selama puluhan tahun.
2.
Proposisi
Setiap penyampaian dakwah
membutuhkan media sarana untuk mempermudah dalam memperoleh penerimaan dakwah dari
masyarakat.
3.
Kesimpulan
Ki Anom Suroto, meskipun hanya
seorang lulusan SMP beliau dikenal sebagai seorang dalang yang terkenal baik di
dalam ataupun luar negri sebab kegigihannnya dalam belajar wayang.
Menurut Ki Anom
Suroto, islam merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dari
cerita atau lakon
wayang . Oleh sebab itu tembang atau lagu dan cerita atau lakon, yang
terdapat pada setiap pementasannya, beliau
selalu menyelipkan tausiah keagamaan
dan isu-isu sosial
yang sedang dihadapi. Sehingga
ilmu dan wawasan keagamaan menjadi suatu hal yang menarik dan menyenangkan
tidak monoton.
Strategi komunikasi Ki Anom Suroto
dalam pagelaranya, sangat memperhatikan para audiensnya. Cerita yang
dilakonkan dalam wayang
Ki Anom Suroto sangat
memperhatikan masalah yang
dihadapi, sehingga pesan dakwah dalam cerita dapat
diterima atau dipahami
oleh para penontonnya.
4.
Mengkritisi
ke tiga poin diatas
Untuk memperoleh penerimaan
masyarakat awam terhadap ajaran islam, sudah seyogya seorang pendakwah memiliki
strategi dalam menyapaikan dakwahnya. Sebagaimana yang praktekkan Ki Anom
Suroto yang menyelipkan ajaran agama dalam pagelarannya, sehingga agama terkesan
menyenangkan tidak monoton dan tidak sulit. Namun perlu digaris bawahi bahwa
tidak semua dakwah harus melalui pentas hiburan, sebab dihawatirkan pesan yang
didengar oleh audiens tidak diresapi oleh ruh, dan menjadi kalimat-kalimat
kosong belaka. Maka seorang pendakwah hendaknya memperhatikan kondisi dan siapa
pendengarnya agar ajaran mulia ini diterima oleh seluruh ummat manusia di muka
bumi ini.
[1] Aris Shoimin,
Model Pembelajaran Inovatif
dalam Kurikulum 2013.
(Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014). hlm. 50.
[2] Saepullah dkk,
Kaji Tindak Model Pembelajran Cooperatif Script, Vol 9. No.1 Oktober 2019 ejurnal.iiq.ac.id
[3] Alip Nuryanto, Saepullah, Wayang Kulit Sebagai Media Dakwah Ki Anom
Suroto, Vol. 5, No. 02, Juli-Desember 2020, https://e-journal.metrouniv.ac.id/